Senin, 19 Oktober 2015

Tugas Psikologi Manajemen (softskill)

DEFINISI KEKUASAAN
Kelompok 5 (Semangka)
1.     Amylia Arifin                   ( 10513806 )
2.     Dicky Noviandi R             ( 12513423 )
3.     Hendra Setiawan              ( 14513020 )
4.     Ikhasan Zakaria               ( 14513257 )
5.     Widya Djaati                    ( 19513267 )

A.      Latar belakang
Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku (Miriam Budiardjo, 2003). Studi tentang kekuasaan dan pengaruhnya sangat penting untuk dipahami bagaimana organisasi melakukan aktivitasnya. Sangat memungkinkan untuk melibatkan kekuasaaan (power) dalam setiap interaksi dan hubungan sosial pada organisasi. Orang cenderung untuk mempengaruhi individu lain dan organisasi dalam setiap tindakan atau perilakunya dengan melakukan social influence dan tindakan (Greenberg & Baron, 2000).
Menurut Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (1964) Adanya kekuasaan cenderung tergantung dari hubungan antara pihak yang memiliki kemampuan untuk melancarkan pengaruh dengan pihak lain yang menerima pengaruh itu, rela karena terpaksa. Kekuasaan lambat laun diidentifikasikan dengan orang yang memegangnya. Contohnya, dalam masyarakat Indonesia terdapat pada masyarakat-masyarakat hokum adat (misalnya desa) yang letaknya terpencil, dimana semua kekuasaan pemerintahan, ekonomi, dan sosial dipercayakan kepada para kepala masyarakat hokum adat tersebut untuk seumur hidup. Karean luasnya kekuasaan dan besarnya kekuasaan yang menyeluruh dari masyarakat hukum adat kepada kepalanya, pengertian kekuasaan dan pengertian orang yang memegangnya lebur menjadi satu. Gejala lain dalam masyarakat yang memegangnya lebur menjadi satu. Gejala lain dalam masyarakat yang memegangnya lebur menjadi satu. Gejala lain dalam masyarakat yang kecil dan bersahaja tadi adalah tidak adanya perbedaan yang jelas antara kekuasaan ( yang tidak resmi ) dengan wewenang  yang resmi ( dalam Soekanto, 1992).
Sebaliknya didalam masyarakat yang besar dan rumit, dimana terlihat berbagai sifat dan tujuan hidup golongan yang berbeda-beda dan  kepentingan yang tidak selalu sama satu dengan lainnya, kekuasaan biasanya terbagi pada beberapa golongan. Oleh karena itu, terdapat perbedaan dan pemisahan teoritis dan nyata tentang kekuasaan politik, militer, ekonomi, dan agama dan seterusnya. Kekuasaan yang terbagi itu tampak dengan jelas di dalam masyarakat yang menganut dan melaksanakan demokrasi secara luas ( dalam Soekanto, 1992).
Kekuasaan merupakan kapasitas yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku orang lain sesuai dengan yang diinginkannya. Kekuasaan tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber yang dibedakan menjadi kekuasaan formal dan kekuasaan personal. Kekuasaan biasanya identik dengan politik. Politik sendiri diartikan sebagai upaya untuk ikut berperan serta dalam mengurus dan mengendalikan urusan masyarakat.
Penyalahgunaan kekuasaan pada dunia politik yang kerap dilakukan oleh pelaku politik menimbulkan pandangan bahwa tujuan utama berpartisipasi politik hanyalah untuk mendapatkan kekuasaan. Padahal, pada hakekatnya penggunaan kekuasaan dalam politik bertujuan untuk mengatur kepentingan semua orang yang ada dalam organisasi, bukan untuk kepentingan pribadi ataupun kelompok. Untuk itu, adanya pembatasan kekuasaan sangat diperlukan agar tumbuh kepercayaan anggota organisasi terhadap pemegang kekuasaan dan terciptanya keadilan serta kenyamanan dalam kehidupan.

1.     Definisi Kekuasaan
Kekuasaan mempunyai peranan yang dapat menentukan nasib berjuta-juta manusia. Kekuasaan seringkali disamakan dengan konsep politik, bahkan banyak yang beranggapan bahwa kekuasaan adalah politik. Begitu pentingnya peranan kekuasaan dalam masyarakat baik yang masih saja maupun yang sudah besar atau rumit susunannya menyebabkan munculnya penilaian baik atau buruknya harus diukur dengan kegunaannya untuk mencapai suatu tujuan yang sudah ditentukan atau disadari oleh masyarakat. Kekuasaan tidak dapat dibagi rata kepada semua anggota masyarakat oleh sebab tidak merata itulah munculnya makna yang pokok dari kekuasaan itulah merupakan kemampuan untuk melancarkan pengaruh dengan pihak lain yang menerima pengaruh itu rela atau karena terpaksa (Soejono Soekamto, 2007:227).
Menurut Max Weber, kekuasaan adalah kesempatan seseorang atau sekelompok untuk menyadarkan masyarakat akan kemauan-kemauannnya sendiri dengan sekaligus menerapkannya terhadap tindakan-tindakan perlawanan dari orang-orang atau golongan-golongan tertentu.
2.     Sumber-sumber Kekuasaan Menurut French dan Raven
French dan Raven (dalam Sarlito, 2005), menyusun sebuah kategorisasi sumber kekuasaan ditinjau dari hubungan anggota (target) dan pemimpin (agent):
a)           Kekuasaan Imbalan atau Ganjaran (Insentif Power)
Kemampuan seseorang untuk memberikan imbalan kepada orang lain (pengikutnya) karena kepatuhan mereka. Kekuasaan imbalan digunakan untuk mendukung kekuasaan legitimasi. Jika seseorang memandang bahwa imbalan, baik imbalan ekstrinsik maupun imbalan intrinsik, yang ditawarkan seseorang atau organisasi yang mungkin sekali akan diterimanya, mereka akan tanggap terhadap perintah. Penggunaan kekuasaan imbalan ini amat erat sekali kaitannya dengan teknik memodifikasi perilaku dengan menggunakan imbalan sebagai faktor pengaruh. 

b)          Kekuasaan Paksaan (Coercive Power)
Kekuasaan imbalan seringkali dilawankan dengan kekuasaan paksaan, yaitu kekuasaan untuk menghukum. Hukuman adalah segala konsekuensi tindakan yang dirasakan tidak menyenangkan bagi orang yang menerimanya. Pemberian hukuman kepada seseorang dimaksudkan juga untuk memodifikasi perilaku, menghukum perilaku yang tidak baik atau merugikan organisasi dengan maksud agar berubah menjadi perilaku yang bermanfaat. Para manajer menggunakan kekuasaan jenis ini agar para pengikutnya patuh pada perintah karena takut pada konsekuensi tidak menyenangkan yang mungkin akan diterimanya. Jenis hukuman dapat berupa pembatalan pemberikan konsekuensi tindakan yang menyenangkan, misalnya pembatalan promosi, pembatalan bonus, maupun pelaksanaan hukuman seperti skors, PHK, potong gaji, teguran di muka umum, dan sebagainya. Meskipun hukuman mungkin mengakibatkan dampak sampingan yang tidak diharapkan, misalnya perasaan dendam, tetapi hukuman adalah bentuk kekuasaan paksaan yang masih digunakan untuk memperoleh kepatuhan atau memperbaiki prestasi yang tidak produktif dalam organisasi.

c)           Kekuasaan Resmi ( Legitimate Power )
Kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain karena posisinya. Seorang yang tingkatannya lebih tinggi memiliki kekuasaan atas pihak yang berkedudukan lebih rendah. Dalam teori, orang yang mempunyai kedudukan sederajat dalam organisasi, misalnya sesama manajer, mempunyai kekuasaan legitimasi yang sederajat pula. Kesuksesan penggunaan kekuasaan legitimasi ini sangat dipengaruhi oleh bakat seseorang mengembangkan seni aplikasi kekuasaan tersebut. Kekuasaan legitimasi sangat serupa dengan wewenang. Selain seni pemegang kekuasaan, para bawahan memainkan peranan penting dalam pelaksanaan penggunaan legitimasi. Jika bawahan memandang penggunaan kekuasaan tersebut sah, artinya sesuai dengan hak-hak yang melekat, mereka akan patuh. Tetapi jika dipandang penggunaan kekuasaan tersebut tldak sah, mereka mungkin sekali akan membangkang. Batas-batas kekuasaan ini akan sangat tergantung pada budaya, kebiasaan dan sistem nilai yang berlaku dalam organisasi yang bersangkutan

d)          Kekuasaan Keahlian ( Expert Power )
Seseorang mempunyai kekuasaan ahli jika ia memiliki keahlian khusus yang dinilai tinggi. Seseorang yang memiliki keahlian teknis, administratif, atau keahlian yang lain dinilai mempunyai kekuasaan, walaupun kedudukan mereka rendah. Semakin sulit mencari pengganti orang yang bersangkutan, semakin besar kekuasaan yang dimiliki. Kekuasaan ini adalah suatu karakteristik pribadi, sedangkan kekuasaan legitimasi, imbalan, dan paksaan sebagian besar ditentukan oleh organisasi, karena posisi yang didudukinya.  Contohnya ; Pasien – pasien dirumah sakit menganggap dokter sebagai pemimpin atau panutan karena dokterlah uang dianggap paling ahli untuk menyembuhkan penyakit

e)           Kekuasaan Rujukan ( Referent Power ) 
Banyak individu yang menyatukan diri dengan atau dipengaruhi oleh seseorang karena gaya kepribadian atau perilaku orang yang bersangkutan. Karisma orang yang bersangkutan adalah basis kekuasaan panutan. Seseorang yang berkarisma ; misalnya seorang manajer ahli, penyanyi, politikus, olahragawan; dikagumi karena karakteristiknya. Pemimpin karismatik bukan hanya percaya pada keyakinan – keyakinannya sendiri (factor atribusi), melainkan juga merasa bahwa ia mempunyai tujuan-tujuan luhur abadi yang supernatural ( lebih jauh dari alam nyata ). Para pengikutnya, di sisi lain, tidak hanya percaya dan menghargai sang pemimpin, tetapi juga mengidolakan dan memujanya sebagai manusia atau pahlawan yang berkekuatan gaib atau tokoh spiritual (faktor konsekuensi). Jadi, pemimpin kharismatik berfungsi sebagai katalisator dari psikodinamika yang terjadi dalam diri para pengikutnya seperti dalam proses proyeksi, represi, dan regresi yang pada gilirannya semakin dikuatkan dalam proses kebersamaan dalam kelompok. Dalam masa puncaknya, Bung Karno misalnya; diberi gelar paduka yang mulia, Panglima Besar ABRI, Presiden seumur hidup, petani agung, pramuka agung, dan berbagai gelar yang lainnya.


B.      Kesimpulan
Kekuasaan merupakan kapasitas yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi cara berpikir dan berperilaku orang lain sesuai dengan yang diinginkannya. Kekuasaan tersebut dapat diperoleh dari berbagai sumber yang dibedakan menjadi kekuasaan formal dan kekuasaan personal. Kekuasaan biasanya identik dengan politik



DAFTAR PUSTAKA


Soekanto, Soerjono. 1982., Sosiologi sebagai Suatu Pengantar.  Raja Grafindo Persada : Jakarta
Sarwono, Sarlito Wirawan. 2005. Psikologi Sosial: Psikologi Kelompok dan Psikologi       Terapan. Jakarta: Balai Pustaka.
            Weber, Max. 1972. Wirtschaft und Gesellschaft. Tubingen: Mohr  Siebeck
Indriani, Santi. 2010, “Hukum dan Kekuasaan dalam Implementasinya”.Volume 3, No. 6,https://jodfisipunbara.files.wordpress.com/2012/05/11-santi-oke-hal-81-89.pdf, Desember 2010.



Selasa, 13 Oktober 2015

Softskill : Psikologi Managemen

Kelompok 5
Semangka
Amylia Arifin              ( 10513806 )
Dicky Noviandi R       ( 12513423 )
Ikhsan Zakaria            ( 14513257 )
Hendra Setiawan        ( 14513020 )
Widya Djaati              ( 19513267 )

                                                 PENDAHULUAN

Latar  Belakang
Para filsuf/filosofi mengatakan bahwa hanya satu hal yang kekal di dunia ini yaitu perubahan. Perubahan akan selalu terjadi dalam segala aspek kehidupan. Hal yang paling nyata adalah diri kita sendiri, secara fisik diikuti psikis, kita tidak dapat menghindari perubahan dari bayi menjadi anak-anak kemudian remaja dan matang sebagai orangtua. Perubahan memberi peluang untuk menjelajahi bidang-bidang baru dan mematahkan rintangan-rintangan yang mungkin ada agar tetap eksis dalam situasi yang dinamis. Kunci perubahan adalah suatu upaya untuk memenuhi syarat menuju keberhasilan sesuai dengan ukuran pengalaman dan intuisi. Hanya saja, banyak orang yang merasa menjadi korban dari perubahan, padahal seharusnya seseorang bisa menjadi bagian atau person yang ditantang oleh banyaknya kesempatan dalam perubahan yang ada (dalam Simaremare, 2013).

1 Mempengaruhi Perilaku

Definisi Pengaruh
Pengaruh adalah pernyataan suatu hubungan yang sudah menjadi arah.Pengaruh adalah salah satu bentuk hubungan yang simetris, oleh karena itu, pada konsep pengaruh, arah hubungan perlu diterapkan.Dalam hubungan sebab-akibat, penentuan pengaruh ini jauh lebih mudah (dalam Umar, 2013).
Proses perubahan perilaku (Setiana, 2005) akan menyangkut aspek pengetahuan, keterampilan, danperilaku mental, sehingga mereka tahu, mau dan mampu melaksanakan perubahan-perubahandalam usaha taninya demi tercapainya peningkatan produksi, pendapatan, dan perbaikankesejahteraan keluarga yang ingin dicapai melalui pembangunan pertanian dalam hal ini titik berat terdapat pada proses penyuluhan yang berkesinambungan sebagai proses perubahan perilaku. Proses perubahan perilaku dituntut agar sasaran berubah tidak semata-mata karena adanya penambahan pengetahuannya saja, namun diharapkan juga ada perubahan pada keterampilan sekaligus perilaku mental yang menjurus kepada tindakan atau kerja yang lebih baik, produktif, dan menguntungkan (dalam Herminingsi, 2014).

Komponen perilaku menurut Mar’at (1984) terbagi menjadi tiga(Setiana, 2005). yaitu: (1) komponen kognitif adalah komponen perilaku yang berhubungan dengan beliefs, ide, dan konsep. Komponen kognitif ini mempengaruhi seseorang dalam hal pemikiran yang berwujud pengolahan, pengalaman, dan keyakinan, serta harapan-harapan individu tentang obyek atau kelompok obyek tertentu; (2) komponen afektif adalah komponen yang menyangkut kehidupan emosional sehingga seseorang dapat memiliki penilaian emosional yang dapat bersifat positif atau negatif, senang atau tidak senang, takut atau tidak takut; (3) komponen konatif adalah komponen perilaku yang merupakan kecenderungan bertingkah laku atau keadaan mudah terpengaruh untuk bertindak sesuatu terhadap obyek (dalam Herminingsi, 2014).

Hal yang dapat membuat individu merubah perilakunya, ataupun tidak, hal inilah yang dinamakan pengaruh, beriku defisni pengaruh menurut beberapa tokoh :
Menurut Kamus Besar Indonesia (dalam Partanto, 1994)
“Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan seseorang.”
Menurut Norman Barry (dalam Budiardjo, 2007)
“Pengaruh adalah suatu tipe kekuasaan yang jika seorang yang dipengaruhi agar bertindak dengan cara tertentu, dapat dikatakan terdorong untuk bertindak demikian, sekalipun ancaman sangsi yang terbuka tidak merupakan motivasi yang mendorongnya.”(influence is a type of power in that a person who is influenced to act in a certain way may be said to be caused so to act, even though an overt threat of santions will not be the motivating force)
Menurut Uwe Becker(dalam Budiardjo, 2007)
“Pengaruh adalah kemampuan yang terus berkembang yang – berbeda dengan kekuasaan tidak begitu terkait dengan usaha memperjuangkan dan memaksakan kepentingan”
Menurut Robert Dahl
“A mempunyai pengaruh atas B sejauh ia dapat menyebabkan B untuk berbuat sesuatu yang sebenarnya tidak akan B lakukan.”
Pengaruh merupakan dua konsep yang berbeda, dan apakah satu diantaranya merupakan konsep pokok, dan yang lainnya bentuk khususnya (dalam Budiardjo, 2007)
Menurut kelompok kami                                                                              
“Pengaruh merupakan sesuatu seperti subjek atau objek yang memiliki kekuatan untuk menimbulkan dorongan yang dapat mengubah seseorang menjadi sesuatu yang di kehendaki.”

 2 Kunci-kunci Perubahan Perilaku

Para filsuf/filosofi mengatakan bahwa hanya satu hal yang kekal di dunia ini yaitu perubahan. Perubahan akan selalu terjadi dalam segala aspek kehidupan. Hal yang paling nyata adalah diri kita sendiri, secara fisik diikuti psikis, kita tidak dapat menghindari perubahan dari bayi menjadi anak-anak kemudian remaja dan matang sebagai orangtua.Perubahan memberi peluang untuk menjelajahi bidang-bidang baru dan mematahkan rintangan-rintangan yang mungkin ada agar tetap eksis dalam situasi yang dinamis.Kunci perubahan adalah suatu upaya untuk memenuhi syarat menuju keberhasilan sesuai dengan ukuran pengalaman dan intuisi. Hanya saja, banyak orang yang merasa menjadi korban dari perubahan, padahal seharusnya seseorang bisa menjadi bagian atau person yang ditantang oleh banyaknya kesempatan dalam perubahan yang ada (dalamSimaremare, 2013)
Perubahan yang telah mempengaruhi seseorang akan membentuk suatu peralihan kondisi yang sebelumnya buruk menjadi baik. Seseorang yang dapat berubah terdiri dari individu berkepribadian (personality) baik.Personaliti terlahir atas daya intelektual dan perbuatan yang menjadikan personality tersebut berkualitas.
Sebab oleh karena itu kunci, perilaku yang akan menjadi kunci perubahan dalam masyarakat adalah seseorang (individu)  yang memiliki sikap kepercayaan diri tanpa batas dan tekad untuk terus maju menuju hal yang lebih baik. Perubahan setiap individu merupakan modal dasar yang dapat mempengaruhi lingkungan sekitar, karena di dalamnya ada interaksi sebagai kontrol sosial yang dapat mendidik manusia dalam lingkungan masyarakat.
Nilai bahwa masyarakat memiliki banyak tambang potensi sumber daya dan orang-orang berkualitas, jujur, dan dapat dipercaya, adalah idealisme yang harus dilaksanakan. Karena dengan perubawahn dapat membuka peluang munculnya orang-orang jujur yang dapat dipercaya akan lebih menjamin kemajuan masyarakat.

3 Bagaimana Mempengaruhi Orang Lain

Mempengaruhi orang lain dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya dengan memberikan sugesti. Sugesti adalah proses mempengaruhi orang lain untuk bertingkah laku menurut keinginan-keinginan seseorang atau menerima ide-ide seseorang tidak secara kritis tanpa paksaan (dalam Semiun, 2006).
Individu yang cenderung mudah mempengaruhi orang lain cenderung memiliki kekuasaan demi mencapai suatu kebutuhan hidupnya. Individu dengan kebutuhan kekuasaan yang tinggi, dilain pihak individu tersebut mengkonsentrasikan diri dengan mempengaruhi orang lain dan memenangkan argumentasi. Tujuan utama mempengaruhi orang lain untuk mencapai kebutuhan, karena menurut McCleallan kebutuhan dipelajari melalui penyesuaian dengan lingkungan seseorang, dengan penyesuaian tersebut itulah cara nya mempengaruhi orang lain (dalam Semiun, 2006).
Tujuan individu berkomunikasi ialah karena hendak mempengaruhi orang lain. Beberapa cara dalam mempengaruhi orang lain (dalam Hassan & Ainon Mohd, 2001), diantarnya :
Mempunyai ide. Dengan ide individu mencoba mempengaruhi orang lain supaya mereka mau menerima ide yang dibuat oleh seorang individu. Jadi, individu mampu mempengaruhinya supaya mereka mau membuang ide tersebut.
Estim diri. Salah satu faktor yang memudahkan orang lain mudah terpengaruh dengan kita ialah karena adanya estim diri yang dipancarkan didalam bahasa yang kita guanakan untuk mempengaruhi orang lain.
Gaya bahasa positif. Bahasa positif adalah bahasa yang terpengaruh. Maksudnya adalah jika individu hendak mempengaruhi orang lain, gaya bahasa positif dapat mempengaruhi orang lain. Oleh karean orang-orang yang Berjaya adalah juga orang-orang yang menggunakan gaya bahasa positif, karena dengan bahasa positif itulah orang-orang yang Berjaya dapat mempengaruhi orang-orang lain. Disebabkan orang yang berikap positif dapat mempengaruhi orang-orang yang mendengar mereka bercakap, jadi mereka lebih mudah sukses dalam apa yang mereka lakukan.
Menurut pakar psikologi, individu mudah suka kepada orang-orang yang bersikap positif.Karena perasaan suka itulah yang menyebabkan kita juga mudah terpengaruh oleh mereka.
Cara terakhir untuk bagaimana mempengaruhi orang lain yaitu berkomunikasi dengan lebih fasih, lancar dan teratur. Karena bahasa bahasa yang tersusun rapi, intonasi yang terkawal, tanpa ada kecepatan atau kelajuan itu semua membuat orang lain dapat dengan cepat dipengaruhi oleh diri kita.

4 Wewenang

Wewenang merupakan sebagai suatu hal yang telah ditetapkan dalam tata tertib sosial untuk untuk menetapkan kebijaksanaan, menentukan keputusan-keputusan mengenai masalah-masalah penting, dan untuk menyelesaikan pertentangan-pertentangan. Dengan kata lain, seseorang yang mempunyai wewenang bertindak sebagai orang yang memimpin atau membimbing orang banyak ( Ibid, hal 83).
Wewenang adalah hak yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang.Tekanannya adalah pada hak, dan bukan pada kekuasaan.
Wewenang ada beberapa bentuk, yaitu sebagai berikut :
Wewenang kharismatis, Tradisional, dan Rasional ( Legal ).
Perbedaan antara wewenang kharismatis, tradisional, dan rasional (legal) dikemukakan oleh Max Weber (947). Perbedaan tersebut didasarkan  pada hubungan antara tindakan dengan dasar hokum yang berlaku

Wewenang kharismatis (charismatic authority) merupakan wewenang yang didasarkan pada charisma, yaitu  suatu kemampuan khusus (wahyu, pulung) yang ada pada diri seseorang. Kemampuan khusus tadi melekat pada orang tersebut karena anugrah. Wewenang kharismatis akan dapat bertahan selama dapat dibuktikan keampuhannya bagi seluruh masyarakat.
Wewenang kharismatis tidak diatur oleh kaidah-kaidah, baik yang tradisional maupun rasional, sifatnya cenderung irasional.Ada kalanya charisma dapat hilang karena masyarakat sendiri yang berubah dan mempunyai paham yang berbeda.Perubahan-perubahan tersebut sering kali dapat diikuti oleh orang yang mempunyai wewenang kharismatis tadi sehingga dia berfungsi oleh kemajuan dan perkembangan masyarakat.

Wewenang tradisional ( traditional authority )dapat dimiliki oleh seseorang atau sekelompok orang. Dengan kata lain wewenang tradisional dimiliki oleh orang-orang yang menjadi anggota kelompok, yang sudah lama sekali mempunyai kekuasaan didalam suatu masyarakat. Ciri-ciri utama wewenang tradisional adalah :
Adanya ketentuan-ketentuan tradisional yang mengikat penguasa yang mempunyai wewenang, serta orang-orang lainnya dalam masyarakat,
Adanya wewenang yang lebih tinggi ketimbang kedudukan seseorang yang  hadir secara pribadi,
Selama tidak ada pertentangan dengan ketentuan-ketentuan tradisional, orang-orang yang dapat bertindak secara bebas.

Wewenang rasional (rational/legal authority ) adalah wewenang yang disandarkan pada system hokum yang berlaku dalam masyarakat. Sistem hokum disini dipahamkan sebagai kaidah-kaidah yang telah diakui serta ditaati masyarakat dan bahkan yang telah diperkuat oleh Negara. Hukumnya bersandar pada tradisi, agama, atau faktor-faktor lain.

Wewenang Resmi dan Tidak Resmi
Wewenang resmi sifatnya sistematis, diperhitungkan, dan rasional.Biasanya wewenang tersebut dapat dijumpai pada kelompok-kelompok besar yang memerlukan aturan-aturan tata tertib yang tegas dan bersifat tetap.Dalam kehidupan kelompok-kelompok sering kali timbul masalah tentang derajat resmi suatu wewenang yang berlaku didalamnya.Sering kali wewenang yang berlaku didalam kelompok-kelompok kecil disebut sebagai wewenang tidak resmi karena bersifat spontan, situasional dan didasarkan pada faktor saling mengenal.

Wewenang pribadi dan territorial
Perbedaan wewenang pribadi dan territorial sebenarnya timbul dari sifat dan dasar kelompok-kelompok sosial tertentu.Kelompok-kelompok tersebut mungkin timbul karena faktor ikatan darah, atau mungkin juga karena faktor tempat tinggal, atau karena gabungan kedua faktor tersebut.Perbedaannya adalah, wewenang pribadi sangat tergantung pada solidaritas antara anggota-anggota kelompok, dan unsur kebersamaan sangat memegang peranan.Para individu dianggap memiliki kewajiban ketimbang hak.Sedangkan wewenang territorial, wilayah tempat tinggal memegang peranan penting.Pada kelompok territorial unsur kebersamaan cenderung berkurang karena desakan faktor-faktor individualism.Hal ini tidaklah berarti bahwa kepentingan perorangan diakui dalam kerangka kepentingan bersama.

Wewenang terbatas dan menyeluruh
Wewenang terbatas adalah wewenang tidak mencakup semua sector atau bidang kehidupan, tetapi hanya terbatas pada salah satu sector atau bidang saja. Misalnya, seorang jaksa di Indonesia, mempunyai wewenang atas nama Negara dan mewakili masyarakat yang melakukan tindak pidana. Namun, jaksa tidak berwenang mengadilinya.Suatu wewenang menyeluruh berarti suatu wewenang yang tidak dibatasi oleh bidang-bidang kehidupan tertentu.



                                                  PENUTUP

Kesimpulan
Pengaruh adalah pernyataan suatu hubungan yang sudah menjadi arah. Pengaruh adalah salah satu bentuk hubungan yang simetris, oleh karena itu, pada konsep pengaruh, arah hubungan perlu diterapkan.Perubahan yang telah mempengaruhi seseorang akan membentuk suatu peralihan kondisi yang sebelumnya buruk menjadi baik. Seseorang yang dapat berubah terdiri dari individu berkepribadian (personality) baik.Personality terlahir atas daya intelektual dan perbuatan yang menjadikan personality tersebut berkualitas.Perubahan setiap individu merupakan modal dasar yang dapat mempengaruhi lingkungan sekitar, karena di dalamnya ada interaksi sebagai kontrol sosial yang dapat mendidik manusia dalam lingkungan masyarakat.






                                         DAFTAR PUSTAKA

Budiardjo, Meriam. 2007.,Dasar-Dasar Ilmu Politik. Gramedia Pustaka Indonesia : Jakarta
Hassan, Abdullah & Ainon Mohd. 20015.,Teori dan Teknik Ucapan berpengaruh Edisi kemas kini. Professional : Malaysia
Herminingsi, Herti. 2014., Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Perilaku Petani Tembakau di Kabupaten Jember.Agribisnis FMIPA UPBJJ : UT Jember. Vol : 15 file:///C:/Users/mama/Downloads/22-64-1-PB.pdf. 13;43
Simaremare, Lintong. 2013., Kunci Pembahagiaan dalam Pekerjaan. Mata Pena Group :  Jakarta
Semiun, yustinus. 2006., Teori Kepribadian & Teori Psikoanalitik Freud. Kanisius : Yogyakarta
Soekanto, Soerjono. 1892,.Sosiologi Suatu Pengantar. Raja Grafindo Persada : Jakarta
Umar, Husein. 2013.,Riset Bisnis dilengkapi Contoh Proposal dan hasil Riset Manajemen dan
Akuntansi.Gramedia Pustaka Utama : Jakarta







Senin, 05 Oktober 2015

Softskill : Psikologi Managemen

Kelompok 2 Semangka
Tugas Kelompok Psikologi Managemen
1.      Amylia Arifin                     ( 10513806 )
2.      Dicky Noviandi R              ( 12513423 )
  3.      Hendra Setiawan                ( 14513020 )       4.     Ikhasan Zakaria              ( 14513257 ) 
5.    Widya Djaati                  ( 19513267 )

PENDAHULUAN

A.    LatarBelakang
Komunikasi merupakan aktifitas dasar manusia. Melalui komunikasi manusia dapat saling berhubungan satu sama lain baik dalam kehidupan sehari-sehari dirumah di tempat kerja, pasar, masyarakat atau dimanapun manusia berada. Tidak ada manusia yang tidak terlibat dalam komunikasi.
Komunikasi  begitu sangat penting dalam kehidupan manusia, karena  harus  diakui bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa komunikasi satu sama lain. Salah satu tujuan komunikasi adalah mengubah sikap dan perilaku seseorang ataupun sekelompok orang sebagaimana yang dikehendaki komunikator, agar isi pesan yang disampaikan dapat dimengerti, diyakini serta pada tahap selanjutnya.
Terdapat beberapa pendapat para ahli tentang komunikasi, diantaranya Carl  IHoveland (Effendy, 1995 : 10)” komunikasi adalah proses dimana seorang komunikato rmenyampaikan perangsang untuk mengubah tingkah laku orang lain.

B.     RumusanMasalah
1.      Jelaskan Definisi dari komunikasi menurut para ahli ?
2.      Jelaskan dimensi-dimensi dari komunikasi ?


DEFINISI KOMUNIKASI DAN DIMENSI-DIMENSI KOMUNIKASI

A.    Definisi Komunikasi
Istilah komunikasi atau communication berasal dari bahasa Latin, yaitu communication yang berarti pemberitahuan atau pertukaran. Kata sifatnya communis,  yang bermakna umum atau bersama-sama.

Salah satutujuan komunikasi adalah mengubah sikap dan perilaku seseorang ataupun sekelompok orang sebagaimana yang dikehendaki komunikator, agar isi yang disampaikan dapat dimengerti, diyakini serta dapat dimengerti pada tahap selanjutnya.

Terdapat beberapa pendapat para ahli tentang komunikasi, diantaranya :
Ø  Carl  IHoveland (Effendy, 1995 : 10)” komunikasi adalah proses dimana seorang komunikator menyampaikan perangsang untuk mengubah tingkah laku orang lain.

Ø  Sarah Trenholmdan Arthur Jensen (1996 :4) mendefinisikan komukasi ialah a process by wich a source transmits a message to a receiver through some channel”(komunikasiadalahsuatu proses dimana sumbe rmentransmisikan pesan kepada penerima melalui beragam saluran).

Ø  Gode (1969 :5) mendefiniskan komunikasi adalah suatu proses yang membuat kebersamaan bagi dua atau lebih yang semula monopoli oleh satu atau beberapa orang.

Ø  Evertt m. Rogers dan Lawrence Kincaid (1981; 18) menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu  proses di mana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi antara satu sama lain, yang pada gilirannya terjadi saling pengertian yang mendalam.

Ø  Menurut Harold D. Lasswell, sebagaimana dikutip oleh Sendjaja (1999: 7) cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan berikut : who say what in which Channel To Whom With What Effect ? (siapa mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa dengan efek bagaimana ?

Ø  Menurut E.O. Wolman dalambuku Dictionary of Behavioral Science menyebutkanenampengertiankomunikasi :
1.      Penyampaian perubahan energy dari suatu tempat ketempat lain seperti dalam system saraf atau penyampaian gelombang-gelombang suara.
2.      Penyampaian atau penerimaan signal atau pesan oleh organisme.
3.      Pesan yang disampaikan.
4.      (Teori Komunikasi). Proses yang dilakukan satu sistem untuk mempengaruhi sistem yang lain melalui pengaturan signal-signal yang disampaikan.

Ø  (K. Lewin) Pengaruh satu wilayah pesona pada wilayah pesona yang lain sehingga perubahan dalam satu wilayah menimbulkan perubahan yang berkaitan pada wilayah lain.

Psikologi menyebut komunikasi pada penyampaian energy adalah dari alat-alat indera keotak, pada peristiwa penerimaan dan pengolahan informasi, yakni pada proses saling berpengaruh di antara berbagai sistem dalam diri organisme.

B. Dimensi- Dimensi komunikasi
Ada beberapa dimensi-dimensi komunikasi diantaranya :
a.       Isi
Maksud dari isi dalam dimensi komunikasi adalah proses menerima dan memberikan pesan, pada saat komunikasi berlangsung antara individu yang satu dengan yang lain, ataupun ketika individu berada ditengah-tengah kelompok.
b.      Kebisingan
Maksud dari kebisingan adalah suara atau bunyi secara fisik merupakan tekanan, pergeseran pertikel dalam medium elastic seperti misalnya udara. Secara fisiologis merupakan sensasi yang timbul sebagai akibat prograsi energy getaran dari suatu sum bergetar yang sampai kegendang telinga. Misalnya ketika Ani dan nina melakukan komunikasi pada saat bermain boneka  terkadang Ani berteriak dengan intonasi tinggi dengan jarak yang tidak jauh kepada nina untuk mengatakan “ayo berlari bersama”, disitulah akan muncul kebisingan.

c.       Jaringan
Struktur jaringan yang dipergunakan oleh suatu organisasi dapat sangat bermanfaat bagi kecepatan dan ketepatan komunikasi antara anggotanya satu sama lain.
Misalnya, ketika kita berada dalam suatu organisasi, yang didalamnya terdapat banyaknya kelompok, terkadang disitu seseorang mengira, komunikasi yang terjadi dalam organisasi itu secara langsung, tetapi sebenarnya komunikasi yang terjadi adalah komunikasi jaringan, seperti misalnya Ani mengira nina berbicara dengannya, tetapi sebenarnya nina berbicara dengan dino, disitu munculah jaringan dalam komunikasi.
d.      Arah
Komunikasi mempunyai dua arah, yaitu satu arah, dan dua arah hal ini merupakan dimensi dari komunikasi secara bebas. Misalnya, apapun yang dikomunikasikanoleh Nina, Ani, dan Dino semuaperbincanganitumemilikiarahdantujuan yang jelas.


PENUTUP

Semua mahluk hidup, tidak akan pernah lepas dari komunikasi. Komunikasi sangat penting bagi kehidupan kita sehari-hari. Tanpa komunikasi kita tidak akan mengerti apa yang dibicarakan orang lain kepadakita, karena komunikasi adalah  proses pemberi dan penerimaan pesan, menganalisa faktor-faktor personal dan situasional yang mempengaruhi individu dengan individu yang lain, atau individu dengan kelompok.

REFERENSI

Wiryanto, 1989.PengantarilmuKomunikasi.GrasindoGramdiawidjasaranaIndonesia : Jakarta
RakhmatJalaludin, 2005.PsikologiKomunikasi. RemajaRosdakarya : Bandung


Kamis, 21 Mei 2015

Self-Directed Changes

Konsep Penerapan Self-Directed Changes

Self-directed changes adalah sebuah teori yang mengajarkan tentang bagaimana kita bisa mengubah diri kearah yang lebih baik dari kenyataan hidup yang kurang mendukung. Kalau kita tidak bisa mengantisipasi perubahan, maka kita perlu menjadikan perubahan itu sebagai dorongan untuk mengubah diri.
Self Directed Change meliliki beberapa tahapan, diantaranya:

1. Meningkatkan Kontrol Diri. 
Meningkatkan control diri yaitu, Kontrol diri berkaitan dengan bagaimana cara seseorang mengendalikan emosi serta dorongan-dorongan dalam dirinya (Harlock). Ketika seseorang ingin merubah kebiasaannya terhadap perbedaan yang besar. Contohnya: misalnya seorang perokok berat yang ingin lepas dari kebiasaannya merokok.

2. Menetapkan Tujuan .
Menetapkan tujuan adalah mengubah hal yang buruk menjadi lebih baik lagi. Kita harus menetapkan target unutk mempunyai hidup yang lebih baik lagi.  Contoh: kita harus menahan keinginan kita untuk merokok mungkin kita bisa mengganti rokok dengan permen-permen pengganti rokok, dan sebagainya.

3. Pencatatan Perilaku. 
Pencatatan perilaku maksudnya adalah kita mencatat hal apa saja yang bisa di rubah dari kebiasaan kita. Contoh: misalnya jika kita mempunyai kebiasaan merokok, catat hal-hal apa saja yang mungkin mengganggu kita untuk tidak merokok. Misalnya dengan menhindari teman yang sedang merokok. Mungkin akan membantu kita untuk mempermudah godaan-godaan yang datang.


4. Menyaring Anteseden Perilaku .
Menyaring anteseden perilaku adalah menuliskan kebiasaan-kebiasaan yang ingin kita perbaiki.
Contoh: selain merokok, misalnya kita sering meminum minuman keras. Lalu kita tuliskan kebiasan tersebut untuk di ubah menjadi lebih baik. Dari situ mungkin kita akan berpikir sebenarnya selama ini baik atau burukkah kebiasaan tersebut untuk kesehatan kita!


5. Menyusun Konsekuensi Yang Efektif.
Jika kita sudah berhasil mengontrol kondisi yang memicu kebiasaan kita, kita perlu meningkatkan meningkatkan pengendalian diri, mengatur konsekuensi dari perilaku kita sehingga orang lain dapat menerimanya.


6. Menerapkan Pencana Intervensi.
Membandingkan seberapa berhasil kita mencapai tujuan-tujuan yang kita kehendaki. Misalnya, menghitung berapa batang atau bungkus rokok yang di hisap dari sebelum kita menerapkan tahapan-tahapan ini sampai sudah menerapkan tahapan ini.

7. Evaluasi.

Evaluasi adalah, melihat berapa besar kemajuan yang sudah kita lakukan untuk perubahan yang lebih baik. Pastikan setiap tahapan terpenuhi. Jika memang ada tahapan yang belum bisa terpenuhi lebih baik kita mengulang tahapan-tahapan tersebut agar tujuan dapat tercapai dengan baik. 

SC : Gramedia Goleman, Daniel (1996) Emotional Intelligence ( Kecerdasan Emosional ). Jakarta: PT Gramedia

Minggu, 17 Mei 2015

Pekerjaan Dan Waktu Luang 2

A. Penyesuaian Diri Dalam Pekerjaan
1.     Kepuasan Kerja
Tidak ada satu batasan dari kepuasan kerja/pekerjaan yang dirasakan yang paling sesuai oleh para penulis dan peneliti. Tenaga kerja yang puas dengan pekerjaannya merasa senang dengan pekerjaannya. Dari batasan Locke dapat disimpulakan adanya dua unsur yang penting dalam kepuasan kerja, yaitu nilai-nilai pekerjaan dan kebutuhan-kebutuhan dasar. Nilai-nilai pekerjaan merupakan tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam melakukan tugas pekerjaan. Yang ingin dicapai adalah nilai-nilai pekerjaan yang dianggap penting oleh individu. Dikatakan selanjutnya bahwa nilai-nilai pekerjaan harus sesuai atau membantu pemenuhan kebutuhan-kebutuhan dasar. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa kepuasan kerja merupakan hasil dari tenaga kerja yang berkaitan dengan motivasi kerja.
2.    Perubahan dalam persediaan dan permintaan, dan berganti pekerjaan
a.    Keluar (exit), Ketidakpuasan kerja yang diungkapkan dengan meninggalkan pekerjaan. Termasuk mencari pekerjaan lain.
b.    Menyuarakan (voice), Ketidakpuasan kerja yang diungkapkan melalui usaha aktif dan konstruktif untuk memperbaiki kondisi, termasuk memberikan saran perbaikan.
c.    Mengabaikan (neglect), Ketidakpuasan kerja yang diungkapkan melalui sikap membiarkan keadaan menjadi lebih buruk. Misalnya  sering absen, upaya berkurang, dan kesalahan yang dibuat makin banyak.
d.     Kesetiaan (loyalty), Ketidakpuasan kerja yang diungkapkan dengan menunggu secara pasif sampai kondisinya menjadi lebih baik.
.
B. Waktu Luang
Dalam bahasa Inggris waktu luang dikenal dengan sebutan leisure. Kata leisuresendiri berasal dari bahasa Latin yaitu licere yang berarti diizinkan (To be Permited)atau menjadi bebas (To be Free). Kata lain dari leisure adalah loisir yang berasal dari bahasa Perancis yang artinya waktu luang (Free Time), George Torkildsen.
Berdasarkan teori dari George Torkildsen dalam bukunya yang berjudul leisure and recreation management (Januarius Anggoa, 2011) definisi berkaitan dengan leisureantara lain:
a. Waktu luang sebagai waktu (leisure as time)
Waktu luang digambarkan sebagai waktu senggang setelah segala kebutuhan yang mudah telah dilakukan. Yang mana ada waktu lebih yang dimiliki untuk melakukan segala hal sesuai dengan keinginan yang bersifat positif. Pernyataan ini didukung oleh Brightbill yang beranggapan bahwa waktu luang erat kaitannya dengan kaitannya dengan kategori discretionary time, yaitu waktu yang digunakan menurut pemilihan dan penilaian kita sendiri.
b. Waktu luang sebagai aktivitas (leisure as activity)
Waktu luang terbentuk dari segala kegiatan bersifat mengajar dan menghibur pernyataan ini didasarkan pada pengakuan dari pihak The International Group of the Social Science of Leisure, menyatakan bahwa: “waktu luang berisikan berbagai macam kegiatan yang mana seseorang akan mengikuti keinginannya sendiri baik untuk beristirahat, menghibur diri sendiri, menambah pengetahuan atau mengembangkan keterampilannya secara objektif atau untuk meningkatkan keikutsertaan dalam bermasyarakat.
c. Waktu luang sebagai suasana hati atau mental yang positif (leisure as an end in itself or a state of being)
Pieper beranggapan bahwa:“Waktu luang harus dimengerti sebagai hal yang berhubungan dengan kejiwaan dan sikap yang berhubungan dengan hal-hal keagamaan, hal ini bukan dikarenakan oleh faktor-faktor yang datang dari luar. Hal ini juga bukan merupakan hasil dari waktu senggang, liburan, akhir pekan, atau liburan panjang.
d. Waktu luang sebagai sesuatu yang memiliki arti luas (leisure as an all embracing)
Menurut Dumadezirer, waktu luang adalah relaksasi, hiburan, dan pengembangan diri. Dalam ketiga aspek tersebut, mereka akan menemukan kesembuhan dari rasa lelah, pelepasan dari rasa bosan, dan kebebasan dari hal-hal yang bersifat menghasilkan. Dengan kata lain, waktu luang merupakan ekspresi dari seluruh aspirasi manusia dalam mencari kebahagiaan, berhubungan dengan tugas baru, etnik baru, kebijakan baru, dan kebudayaan baru.
e. Waktu luang sebagai suatu cara untuk hidup (leisure as a way of living)
Seperti yang dijelaskan oleh Goodale dan Godbye dalam buku The Evolution Of Leisure : “Waktu luang adalah suatu kehidupan yang bebas dari tekanan-tekanan yang berasal dari luar kebudayaan seseorang dan lingkungannya sehingga mampu untuk bertindak sesuai rasa kasih yang tak terelakkan yang bersifat menyenangkan, pantas, dan menyediakan sebuah dasar keyakinan”. Hal senada juga diungkapkan oleh Soetarlinah Sukadji (Triatmoko, 2007) yang melihat arti istilah waktu luang dari 3 dimensi, yaitu:
a. Dilihat dari dimensi waktu, waktu luang dilihat sebagai waktu yangtidak digunakan untuk bekerja mencari nafkah, melaksanakan kewajiban, dan mempertahankan hidup.
b. Dari segi cara pengisian, waktu luang adalah waktu yang dapat diisi dengan kegiatan pilihan sendiri atau waktu yang digunakan dan dimanfaatkan sesuka hati.
c. Dari sisi fungsi, waktu luang adalah waktu yang dimanfaatkan sebagai sarana mengembangkan potensi, meningkatkan mutu pribadi, kegiatan terapeutik bagi yang mengalami gangguan emosi, sebagai selingan hiburan, sarana rekreasi, sebagai kompensasi pekerjaan yang kurang menyenangkan, atau sebagai kegiatan menghindari sesuatu.
Dengan banyaknya definisi waktu luang, dapat disimpulkan bahwa waktu luang adalah waktu yang mempunyai posisi bebas penggunaannya dan  waktu tersebut berada diluar kegiatan rutin sehari-hari sehingga dapat dimanfaatkan secara positif guna meningkatkan produktifitas hidup yang efektif dan pengisian waktu luang dapat diisi dengan berbagai macam kegiatan yang mana seseorang akan mengikuti keinginannya sendiri baik untuk beristirahat, menghibur diri sendiri, menambah pengetahuan atau mengembangkan keterampilannya secara objektif.
Mengisi waktu luang bagi remaja terutama siswa yaitu waktu yang terdapat pada siswa diluar jam pelajaran sekolah dan dapat diisi dengan kegiatan relaksasi atau istirahat, kegiatan hiburan atau rekreasi, dan kegiatan pengembangan diri sesuai dengan pilihan sendiri sehingga akan timbul suatu kesembuhan dari rasa capek dan melepaskan dari rasa bosan.


Senin, 11 Mei 2015

Sikap Terhadap Pekerjaan

A. Mengubah Sikap Terhadap Pekerjaan

Sikap (attitude) merupakan salah satu bahasan yang menarik dalam kajian psikologi, karena sikap sering di gunakan untuk meramalkan tingkah laku, baik tingkah laku perorangan; kelompok; bahkan tingkah laku suatu bangsa. Salah satu hal yang menarik dari perilaku manusia yang membuatnya menjadi kompleks adalah sifat deferensial. Seseorang dapat berespon tertentu dalam menghadapi stimulus atau objek pada suatu saat, tetapi dapat pula berespon yang lain pada saat yang berbeda.

Yang di cari dalam pekerjaan :
•         Menafkahi keluarga
•         Mencari pengalaman
•         Mengasah keahlian dan ketrampilan
•         Mencari status untuk mengikat seseorang pada individu lain serta masyarakat
•         Mencari kesenangan dan arti tersendiri bagi kehidupan seorang individu

Fungsi psikologis dari pekerjaan
Kerja mulai dipahami sebagai tempat sosial dimana manusia
menggunakan bakat-bakat yang dimiliki untuk melayani sesama, tidak
lagi semata-mata dalam rangka memenuhi kebutuhan finansial keluarga.
Manusia mulai sadar memiliki kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi secara
mandiri sehingga dirasakan perlunya komunitas yang didalamnya orang
orang saling bergantung. Setiap orang harus mempergunakan bakat yang
dimilkinya untuk melayani orang lain, demikian pula sebaliknya.
Sehingga, secara bersama-sama setiap orang membangun masyarakat
sebagai suatu sistem yang saling mendukung.
Dengan kosep kerja seperti ini, kita kemudian berpikir tentang dua hal
mendasar bagaimana memilih suatu pekerjaan. Pertama, pekerjaan dipilih
berdasarkan minat dan bakat yang kita miliki. Meskipun terdengar
sederhana, namun faktanya menemukan minat dan bakat adalah suatu
proses yang sulit karena kita lahir tanpa membawa rincian tentang
ketertarikan dan kemampuan bawaan.

B.   Proses dalam Memilih Pekerjaan

Seorang individu membutuhkan pekerjaan untuk bertahan hidup atau memenuhi kebutuhanya sehari-hari. Biasanya mereka memilih suatu pekerjaan yang sesuai dengan keahlian yang mereka miliki. Dalam memilih pekerjaan manusia akan mau dan mampu untuk bekerja dengan baik bilamana ia ditempatkan pada posisi dengan jabatan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya, serta bila mana ia bisa memenuhi kebutuhannya dengan melakukan pekerjaan itu. lni berarti bahwa perusahaan harus bisa menempatkan orang pada jabatan-jabatan yang sesuai dengan minat dan kemampuannya, dengan tidak lupa mempertimbangkan upaya pemenuhan kebutuhannya. Sebelum di tempatkan pada posisi yang sesuai dengan minat dan kemampuanya, para calon tenaga kerja biasanya terlebih dahulu mengikuti seleksi yang diadakan oleh pihak perusahaan yang bertujuan untuk mencari calon tenga kerja yang memang benar-benar menguasai keahlian didalam bidang yang dicari oleh pihak perusahaan. ada enam tahapan yang harus dijalani oleh seorang calon tenaga kerja, yaitu:
1. Tahap penyerahan surat lamaran
2. Tahap wawancara awal
3. Tahap ujian psikotes (wawancara)
4. Tahap penilaian akhir
5. Tahap pemberitahuan wawancara akhir.
6. Tahap penerimaan

Fase-fase identitas pekerjaan:
Fase remaja sangat penting untuk dilalui oleh anak-anak karena akan memengaruhi masa depan mereka. Terutama dalam hal bagaimana anak-anak mendeskripsikan siapa diri mereka serta bagaimana mereka bersikap terhadap lingkungan mereka di masa depan. Jika anak-anak gagal menjalani fase remaja dengan baik, maka tugas-tugas perkembangan mereka di fase usia selanjutnya akan rentan terganggu.
Apalagi tugas perkembangan yang utama dilakukan dalam fase remaja adalah untuk mencari identitas diri. Identitas diri mencakup bagaimana seorang anak melihat diri mereka, bagaimana mereka menilai kelebihan dan kekurangannya, bagaimana mereka menentukan bayangan sosok ideal yang mereka ingin perankan, serta bagaimana mereka menentukan bayangan masa depan yang mereka inginkan. Ketika anak-anak pada usia ini gagal mengetahui siapa identitas mereka, maka mereka akan mengalami kebingungan yang akan rentan berdampak pada tugas-tugas perkembangan mereka selanjutnya.
Proses mencari identitas diri juga bukanlah suatu hal yang mudah. “Anak-anak harus mengeksplorasi diri mereka di dalam lingkungan serta menghadapi tantangan lingkungan, sementara di waktu yang bersamaan mereka juga mengalami perubahan-perubahan di aspek fisik, kognitif, dan psikologis, yang membuat mereka harus beradaptasi,” lanjut Pustika. Proses yang tidak mudah inilah yang membuat anak-anak kerap terkesan “labil”.

C.   Memilih Pekerjaan yang Cocok
Memilih pekerjaan yang tepat memang perlu proses, bukan hanya disandarkan akan adanya peluang tapi juga berdasarkan kemampuan dan bakat yang anda miliki.
Salah satu cara untuk memilih pekerjaan yang baik yaitu dengan mencocokan antara pekerjaan dan kepribadian.

Berikut beberapa kepribadian yang bisa menjadi dasar untuk memilih pekerjaan yang cocok untuk anda :
·       Konvensional yaitu memiliki kepribadian yang menyukai dengan aturan, prosedur tetap, jadwal, instruksi ketimbang harus berfikir dengan ide kreatif. Pekerjaan yang tepat untuk pribadi konvensional ini adalah akuntan, aktuaria, inspektur keamanan, keuangan, perencana keuangan, dan penulis teknis.
·       Realistik adalah orang yang menyukai hasil akhir, menyukai persoalan dan masalah yang harus dipecahkan. Mereka senang bekerja di luar ruang, bekerja dengan mesin, alat-alat berat, dan perhiasan. Pekerjaan yang baik untuk tipe realistik adalah ahli elektro, ahli nuklir, dokter gigi, dan ahli kunci.
·       Sosialis yaitu orang yang senang dengan kegiatan sosial membantu penderitaan orang banyak. Mereka pandai berkomunikasi, bekerjasama dengan team dan merasa nyaman dalam berinteraksi dengan orang lain. Pekerjaan bagus adalah pelatih pribadi, psikolog sekolah, bimbingan siswa, guru, relawan dan motivator.
·       Penyelidik merupakan orang yang senang bekerja sendiri, menyelidiki sesuatu, menggunakan logika, menyelesaikan masalah dan misteri, menyatukan masalah yang tercerai, presisi, dan ilmu pasti. Profesi yang tepat yaitu analis sistem komputer, optometris, profesor ilmu alam, insinyur piranti lunak, dan pelaku statistik.
·       Wirausahawan yaitu orang yang pandai melihat peluang dan berani mengubahnya untuk suatu keuntungan. Pribadi wirausaha selalu action apabila melihat peluang dan merekapun memiliki kemampuan memimpin dan mengorganisir sumberdaya. Pekerjaan yang cocok adalah agen sales di advertising, pekerja finansial, analisis manajemen, direktur program, sales manager dan pastinya membuat usaha sukses sendiri.