Cinta
satu katu beribu makna.
Memilih Pasangan.
Sebagai manusia yang
memiliki cinta, tentunya kita akan mencari pasangan yang sesuai dengan yang
kita mau, bahkan mendekati sempurna.
Berikut ini adalah
bagaimana memilih pasangan :
Yang pertama pilihlah
pendamping hidup yang baik agamanya terutama yang kuat imannya, dan memiliki budi
pekerti yang baik. Dikarenakan agama merupakan fondasi awal dalam berumah
tangga. Apabila ada perbedaan di awal, tentu prinsip ini akan bisa menggoyahkan
prinsip hidup yang lainnya.
Kedua pilih pasangan
hidup yang jujur, dapat dipercaya, dan bisa memegang janji untuk menjadi
pendamping hidup yang baik selamanya dan jangan lupa juga yang bertanggung
jawab.
usahakan pilih yang
sepadan denganmu. Begitu pula dengan adat atau norma sosialnya, yaitu punya
satu kebiasaan yang sama dan terpenting memiliki sopan santun.
Dan terkahir harus mendapatkan
restu dari kedua orangtua dengan ikhlas. Restu orang tua adalah restu Tuhan
juga.
Hubungan dalam
Perkawinan
Pada umumnya salah satu
kegagalan dalam mencapai kebahagiaan perkawinan adalah perceraian. Perceraian
adalah akumulasi dari kekecewaan yang berkepanjangan yang disimpan dalam alam
bawah sadar individu. Adanya batas toleransi pada akhirnya menjadikan
kekecewaan tersebut muncul kepermukaan, sehingga keinginan untuk bercerai
begitu mudah.
Masalah seputarperkawinan atau hidup berkeluarga, seperti :
Masalah seputarperkawinan atau hidup berkeluarga, seperti :
·
kesulitan ekonomi keluarga yang kurang
tercukupi
·
perbedaan watak
·
tempramen dan perbedaan kepribadian yang
sangat tajam antara suami istri
·
hubungan seks yang tidak terpuaskan
·
kejenuhan rutinitas
·
hubungan antar keluarga besar yang
kurang baik
·
adanya wanita idaman lain, atau pria
idaman lain
·
masalah harta warisan
·
menurunnya perhatian kedua belah pihak
·
dominasi intervensi orang tua atau
mertua
·
kesalahpahaman antara kedua belah pihak
Penyesuaian dan
Pertumbuhan dalam Perkawinan
Perkawinan tidak
berarti mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu ini harus dapat
mengembangkan diri untuk kemajuan bersama. Keberhasilan dalam perkawinan tidak
diukur dari ketergantungan pasangan. Perkawinan merupakan salah satu tahapan
dalam hidup yang pasti diwarnai oleh perubahan. Dan perubahan yang terjadi
dalam sebuah perkawinan, sering tak sederhana. Perubahan yang terjadi dalam
perkawinan banyak terkait dengan terbentuknya relasi baru sebagai satu kesatuan
serta terbentuknya hubungan antarkeluarga kedua pihak.
Relasi yang diharapkan
dalam sebuah perkawinan tentu saja relasi yang erat dan hangat. Tapi karena
adanya perbedaan kebiasaan atau persepsi antara suami-istri, selalu ada hal-hal
yang dapat menimbulkan konflik. Dalam kondisi perkawinan seperti ini, tentu
sulit mendapatkan sebuah keluarga yang harmonis.
Pada dasarnya,
diperlukan penyesuaian diri dalam sebuah perkawinan, yang mencakup perubahan
diri sendiri dan perubahan lingkungan. Bila hanya mengharap pihak pasangan yang
berubah, berarti kita belum melakukan penyesuaian. Banyak yang bilang
pertengkaran adalah bumbu dalam sebuah hubungan. Bahkan bisa menguatkan ikatan
cinta. Hanya, tak semua pasangan mampu mengelola dengan baik sehingga kemarahan
akan terakumulasi dan berpotensi merusak hubungan.
Perceraian dan
Pernikahan Kembali
Pernikahan bukanlah
akhir kisah indah, namun dalam perjalanannya, pernikahan justru banyak menemui
masalah. Banyak dari orang-orang yang menikah pada akhirnya harus bercerai. Perceraian adalah
berakhirnya suatu pernikahan. Saat kedua pasangan tak ingin
melanjutkan kehidupan pernikahannya, mereka bisa meminta
pemerintah untuk dipisahkan.
Faktor penyebab
perceraian antara lain adalah sebagai berikut :
– Ketidakharmonisan
dalam rumah tangga
Alasan tersebut di atas
adalah alasan yang paling kerap dikemukakan oleh pasangan suami – istri yang
akan bercerai. Ketidakharmonisan bisa disebabkan oleh berbagai hal antara lain,
krisis keuangan, krisis akhlak, dan adanya orang ketiga. Dengan kata lain,
istilah keharmonisan adalah terlalu umum sehingga memerlukan perincian yang
lebih mendetail.
– Krisis
moral dan akhlak
Selain
ketidakharmonisan dalam rumah tangga, perceraian juga sering memperoleh landasan
berupa krisis moral dan akhlak, yang dapat dilalaikannya tanggung jawab baik
oleh suami ataupun istri, poligami yang tidak sehat, penganiayaan, pelecehan
dan keburukan perilaku lainnya yang dilakukan baik oleh suami ataupun istri,
misal mabuk, berzinah, terlibat tindak kriminal, bahkan utang piutang.
– Perzinahan
Di samping itu, masalah
lain yang dapat mengakibatkan terjadinya perceraian adalah perzinahan, yaitu
hubungan seksual di luar nikah yang dilakukan baik oleh suami maupun istri.
– Pernikahan
tanpa cinta
Alasan lainnya yang
kerap dikemukakan oleh suami dan istri, untuk mengakhiri sebuah perkawinan
adalah bahwa perkawinan mereka telah berlangsung tanpa dilandasi adanya cinta.
Untuk mengatasi kesulitan akibat sebuah pernikahan tanpa cinta, pasangan harus
merefleksi diri untuk memahami masalah sebenarnya, juga harus berupaya untuk
mencoba menciptakan kerjasama dalam menghasilkan keputusan yang terbaik.
– Adanya
masalah-masalah dalam perkawinan
Menikah kembali
setelah perceraian mungkin menjadi keputusan yang membingungkan untuk diambil.
Karena orang akan mencoba untuk menghindari semua kesalahan yang terjadi dalam
perkawinan sebelumnya dan mereka tidak yakin mereka bisa memperbaiki masalah
yang dialami. Mereka biasanya kurang percaya dalam diri mereka untuk memimpin
pernikahan yang berhasil karena kegagalan lama menghantui mereka dan membuat
mereka ragu-ragu untuk mengambil keputusan.
Lalu hal apa yang akan
mempengaruhi peluang untuk menikah setelah bercerai? Ada banyak faktor.
Misalnya seorang wanita muda pun bisa memiliki kesempatan kurang dari menikah
lagi jika dia memiliki beberapa anak. Ada banyak faktor seperti faktor
pendidikan, pendapatan dan sosial.
Sebagai manusia, kita
memang mempunyai daya tarik atau daya ketertarikan yang tinggi terhadap hal-hal
yang baru. Jadi, semua hal yang telah kita miliki dan nikmati untuk suatu
periode tertentu akan kehilangan daya tariknya. Misalnya, Anda mencintai pria
yang sekarang menjadi pasangan karena kegantengan, kelembutan dan tanggung
jawabnya. Lama-kelamaan, semua itu berubah menjadi sesuatu yang biasa. Itu
adalah kodrat manusia. Sesuatu yang baru cenderung mempunyai daya tarik yang
lebih kuat dan kalau sudah terbiasa daya tarik itu akan mulai menghilang pula.
Ada kalanya, hal-hal yang sama, yang terus-menerus kita lakukan akan membuat
jenuh dalam pernikahan.
Esensi dalam pernikahan
adalah menyatukan dua manusia yang berbeda latar belakang. Untuk itu kesamaan
pandangan dalam kehidupan lebih penting untuk diusahakan bersama.
Alternatif selain
Pernikahan
Tak sedikit orang yang
memilih menjalani hidup sendiri. mereka yang masih single, walaupun umurnya
sudah tergolong matang memiliki kesibukan yang berlebih dibanding yang lainnya.
Orang-orang yang memilih untuk single biasanya karena orang teresebut terlalu
sibuk dengan karirnya, sehingga tidak terlalu memikirkan soal jodoh ataupun
percintaan mereka. Dan ada juga orang yang memilih single karena kecewa dengan,
entah itu karena di tinggal nikah ataupun di selingkuhin. Sehingga mereka
memilih untuk menjalani hidup tanpa pasangan.
Widianti,
Dian. (2006). Ensiklopedia Cinta. Bandung : Dar! Mizan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar