Sabtu, 02 Mei 2015

Cinta Dan Perkawinan

Cinta satu katu beribu makna.
Memilih Pasangan.
Sebagai manusia yang memiliki cinta, tentunya kita akan mencari pasangan yang sesuai dengan yang kita mau, bahkan mendekati sempurna.
Berikut ini adalah bagaimana memilih pasangan :
Yang pertama pilihlah pendamping hidup yang baik agamanya terutama yang kuat imannya, dan memiliki budi pekerti yang baik. Dikarenakan agama merupakan fondasi awal dalam berumah tangga. Apabila ada perbedaan di awal, tentu prinsip ini akan bisa menggoyahkan prinsip hidup yang lainnya.
Kedua pilih pasangan hidup yang jujur, dapat dipercaya, dan bisa memegang janji untuk menjadi pendamping hidup yang baik selamanya dan jangan lupa juga yang bertanggung jawab.
usahakan pilih yang sepadan denganmu. Begitu pula dengan adat atau norma sosialnya, yaitu punya satu kebiasaan yang sama dan terpenting memiliki sopan santun.
Dan terkahir harus mendapatkan restu dari kedua orangtua dengan ikhlas. Restu orang tua adalah restu Tuhan juga.
Hubungan dalam Perkawinan 
Pada umumnya salah satu kegagalan dalam mencapai kebahagiaan perkawinan adalah perceraian. Perceraian adalah akumulasi dari kekecewaan yang berkepanjangan yang disimpan dalam alam bawah sadar individu. Adanya batas toleransi pada akhirnya menjadikan kekecewaan tersebut muncul kepermukaan, sehingga keinginan untuk bercerai begitu mudah.
Masalah seputarperkawinan atau hidup berkeluarga, seperti :
·         kesulitan ekonomi keluarga yang kurang tercukupi
·         perbedaan watak
·         tempramen dan perbedaan kepribadian yang sangat tajam antara suami istri
·         hubungan seks yang tidak terpuaskan 
·         kejenuhan rutinitas
·         hubungan antar keluarga besar yang kurang baik
·         adanya wanita idaman lain, atau pria idaman lain
·         masalah harta warisan
·         menurunnya perhatian kedua belah pihak
·         dominasi intervensi orang tua atau mertua
·         kesalahpahaman antara kedua belah pihak

Penyesuaian dan Pertumbuhan dalam Perkawinan
Perkawinan tidak berarti mengikat pasangan sepenuhnya. Dua individu ini harus dapat mengembangkan diri untuk kemajuan bersama. Keberhasilan dalam perkawinan tidak diukur dari ketergantungan pasangan. Perkawinan merupakan salah satu tahapan dalam hidup yang pasti diwarnai oleh perubahan. Dan perubahan yang terjadi dalam sebuah perkawinan, sering tak sederhana. Perubahan yang terjadi dalam perkawinan banyak terkait dengan terbentuknya relasi baru sebagai satu kesatuan serta terbentuknya hubungan antarkeluarga kedua pihak.
Relasi yang diharapkan dalam sebuah perkawinan tentu saja relasi yang erat dan hangat. Tapi karena adanya perbedaan kebiasaan atau persepsi antara suami-istri, selalu ada hal-hal yang dapat menimbulkan konflik. Dalam kondisi perkawinan seperti ini, tentu sulit mendapatkan sebuah keluarga yang harmonis.
Pada dasarnya, diperlukan penyesuaian diri dalam sebuah perkawinan, yang mencakup perubahan diri sendiri dan perubahan lingkungan. Bila hanya mengharap pihak pasangan yang berubah, berarti kita belum melakukan penyesuaian. Banyak yang bilang pertengkaran adalah bumbu dalam sebuah hubungan. Bahkan bisa menguatkan ikatan cinta. Hanya, tak semua pasangan mampu mengelola dengan baik sehingga kemarahan akan terakumulasi dan berpotensi merusak hubungan.
Perceraian dan Pernikahan Kembali
Pernikahan bukanlah akhir kisah indah, namun dalam perjalanannya, pernikahan justru banyak menemui masalah. Banyak dari orang-orang yang menikah pada akhirnya harus bercerai. Perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan. Saat kedua pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahannya, mereka bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan.
Faktor penyebab perceraian antara lain adalah sebagai berikut :
–          Ketidakharmonisan dalam rumah tangga
Alasan tersebut di atas adalah alasan yang paling kerap dikemukakan oleh pasangan suami – istri yang akan bercerai. Ketidakharmonisan bisa disebabkan oleh berbagai hal antara lain, krisis keuangan, krisis akhlak, dan adanya orang ketiga. Dengan kata lain, istilah keharmonisan adalah terlalu umum sehingga memerlukan perincian yang lebih mendetail.
–          Krisis moral dan akhlak
Selain ketidakharmonisan dalam rumah tangga, perceraian juga sering memperoleh landasan berupa krisis moral dan akhlak, yang dapat dilalaikannya tanggung jawab baik oleh suami ataupun istri, poligami yang tidak sehat, penganiayaan, pelecehan dan keburukan perilaku lainnya yang dilakukan baik oleh suami ataupun istri, misal mabuk, berzinah, terlibat tindak kriminal, bahkan utang piutang.
–          Perzinahan
Di samping itu, masalah lain yang dapat mengakibatkan terjadinya perceraian adalah perzinahan, yaitu hubungan seksual di luar nikah yang dilakukan baik oleh suami maupun istri.
–          Pernikahan tanpa cinta
Alasan lainnya yang kerap dikemukakan oleh suami dan istri, untuk mengakhiri sebuah perkawinan adalah bahwa perkawinan mereka telah berlangsung tanpa dilandasi adanya cinta. Untuk mengatasi kesulitan akibat sebuah pernikahan tanpa cinta, pasangan harus merefleksi diri untuk memahami masalah sebenarnya, juga harus berupaya untuk mencoba menciptakan kerjasama dalam menghasilkan keputusan yang terbaik.
–          Adanya masalah-masalah dalam perkawinan
Menikah kembali setelah perceraian mungkin menjadi keputusan yang membingungkan untuk diambil. Karena orang akan mencoba untuk menghindari semua kesalahan yang terjadi dalam perkawinan sebelumnya dan mereka tidak yakin mereka bisa memperbaiki masalah yang dialami. Mereka biasanya kurang percaya dalam diri mereka untuk memimpin pernikahan yang berhasil karena kegagalan lama menghantui mereka dan membuat mereka ragu-ragu untuk mengambil keputusan.
Lalu hal apa yang akan mempengaruhi peluang untuk menikah setelah bercerai? Ada banyak faktor. Misalnya seorang wanita muda pun bisa memiliki kesempatan kurang dari menikah lagi jika dia memiliki beberapa anak. Ada banyak faktor seperti faktor pendidikan, pendapatan dan sosial.
Sebagai manusia, kita memang mempunyai daya tarik atau daya ketertarikan yang tinggi terhadap hal-hal yang baru. Jadi, semua hal yang telah kita miliki dan nikmati untuk suatu periode tertentu akan kehilangan daya tariknya. Misalnya, Anda mencintai pria yang sekarang menjadi pasangan karena kegantengan, kelembutan dan tanggung jawabnya. Lama-kelamaan, semua itu berubah menjadi sesuatu yang biasa. Itu adalah kodrat manusia. Sesuatu yang baru cenderung mempunyai daya tarik yang lebih kuat dan kalau sudah terbiasa daya tarik itu akan mulai menghilang pula. Ada kalanya, hal-hal yang sama, yang terus-menerus kita lakukan akan membuat jenuh dalam pernikahan.
Esensi dalam pernikahan adalah menyatukan dua manusia yang berbeda latar belakang. Untuk itu kesamaan pandangan dalam kehidupan lebih penting untuk diusahakan bersama.
Alternatif selain Pernikahan 
Tak sedikit orang yang memilih menjalani hidup sendiri. mereka yang masih single, walaupun umurnya sudah tergolong matang memiliki kesibukan yang berlebih dibanding yang lainnya. Orang-orang yang memilih untuk single biasanya karena orang teresebut terlalu sibuk dengan karirnya, sehingga tidak terlalu memikirkan soal jodoh ataupun percintaan mereka. Dan ada juga orang yang memilih single karena kecewa dengan, entah itu karena di tinggal nikah ataupun di selingkuhin. Sehingga mereka memilih untuk menjalani hidup tanpa pasangan.

Widianti, Dian. (2006). Ensiklopedia Cinta. Bandung : Dar! Mizan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar